Bila Cinta Bicara

Juli 17, 2008

Pada suatu hari berjalanlah seorang bujangan dan seorang perawan dari arah berlainan. Sampai pada suatu titik mereka berjumpa satu dengan lainnya. Keduanya kemudian berjalan menuju arah yang sama. Si Pemuda berjalan sambil menggendong kendi berisi air. Tangan kanannya mencengkeram tali penuntun domba, dan tangan kirinya memegang tongkat dan juga seekor ayam.
Pada penghujung jalan, keduanya menjumpai sebuah tebing curam.
Si Gadis berhenti dan berkata, “Aku nggak mau menuruni tebing itu bersama Kamu.”
“Kenapa, Jeng?” Tanya Si Pemuda.
“Sebab kalau kita bareng-bareng turun, Kamu pasti akan memeluk dan menciumku” katanya.
“Bagaimana bisa. Aku menggendong kendi. Tangan kananku memegang tali domba, dan tangan kiriku memegang tongkat dan seekor ayam”, sahut Si Pemuda.
“Bisa saja Mas melakukan itu. Coba saja Mas suruh saya memegang tali domba, kemudian tongkat di sandarkan di pohon dan ayamnya dimasukin kendi. Pasti Mas bisa saja memeluk dan mencium saya.”
Kagum dengan kecerdasan perempuan yang ada di hadapannya, Si Pemuda berucap,”Tuhan sungguh-sungguh Maha Pemberi.”
Sesudahnya, sepasang insan tersebut bersama-sama menuruni tebing itu.

Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, dan engkau lari menghampiriku dengan tangis yang terpendam. “kenapa?” tanyaku memecah kesunyian. “perang lagi dengan suto?” lanjutku. alang hanya menganggukkan kepala, dan terus saja menangis tanpa suara dengan tatapan yang menerawang. aku tak pernah tega melihatnya menangis seperti itu, rasanya sudah terlalu banyak beban yang dipanggulnya. Kubiarkan dia beberapa saat, kuberikan segelas air putih untuk membuatnya menjadi lebih tenang.

beberapa saat setelah alang merasa puas menangis dia mulai membuka percakapannya, “mungkin kamu benar Ra, dia tidak pernah cocok untukku.” Aku menghela nafas, dan mulai angkat bicara “Aku sudah selalu mengingatkamnmu, dia memang kepala batu, bahkan batu Borubudurpun kalah kuat.” timpalku. Pikiranku langsung melayang pada suto, lelaki dingin yang kukenal. selalu tenang dan tidak pernah bisa diduga. Aku mengenal dia meski tidak tahu banyak namun feelingku mengatakan dia memang lelaki yang kepala batu yang angkuh untuk mengakui kelemahannya. dia memang hebat dengan pengetahuan yang dia miliki namun semua tertutup oleh keangkuhannya. Suto selalu saja membuat alang menangis, aku tidak pernah tahu duduk permasalahan sebenarnya, namun aku tidak bisa membiarkan alang menjadi lebih menderita.

pikiranku lansung melompat, ya tiba-tiba saja aku ingat Sakti lelaki yang pernah menghabiskan waktu bersamaku selama 2 tahun. suto benar-benar mengingatkanku pada Sakti. lelaki hebat yang pernah kumiliki. sampai detik inipun aku masih saja memikirkannya. aku tak pernah bisa mengerti kenapa aku selalu bermasalah dengannya. selalu saja hubungan kami diwarnai dengan perang mulut yang seakan tak pernah ada habisnya. masing-masing merasa benar. aku juga heran masalah-masalah yang seharusnya tidak perlu kami pikirkan, melintas dan tiba-tiba saja menjadi bahan untuk arena baku hantam.

biasanya setelah itu, kami tidak pernah bicara, sampai ada salah satu yang mengalah dan menyelesaikan masalah dengan percintaan yang dasyat. Ya, percintaan yang menjadi tiket kami berdamai. Aku merasa dia tidak pernah menghargaiku sebagai teman dekatnya. dia selalu menuntutku untuk mendukung namun tak pernah tahu jelas apa masalahnya karena dia lebih percaya pada kawan-kawannya. dia selalu saja menghindar ketika kutulusuri apa yang menjadi beban pikirannya saat ini, dan selalu mengatakan bahwa untuk mengerti tidak harus dengan bahasa verbal. Tetapi aku selalu menyanggahnya, bagaimanapun komunikasi penting untuk saling mengenal.

Melihat hubungan ilalang dan suto seakan melihat cermin kehidupanku sendiri. Aku usap rambut ilalng dengan lembut, aku sadar dia membutuhkan perhatian dan tempat berbagi saat ini. “ sudahlah ilalang, kamu boleh menangis sepuasnya, namun jangan kau sakiti dirimu sendiri.” Saranku padanya. Aku tak tahu harus mengatakan apa, jauh di dalam lubuk hatikupun sebenarnya sangat bergemuruh. Banyangan-banyangan Sakti datang dan menghilang tak jelas iramanya. Hingga detik inipun aku tidak bisa melupakan dia. Hujanan pertanyaanpun memburu dalam pikiranku. Prosesku dengan dirinya pun belum selesai dan entah kapan akan selesai. Tak pernah kumengerti apakah makna cinta itu. Apakah mungkin seperti sukrasana yang rela mati demi sumantri, atau seperti bagaspati yang rela mati demi untuk kebahagian putrinya setyawati.

Nyanyian kepedihan jiwa bergelombang saat ini. Cinta yang tetap tak pernah kumengerti. Cinta yang penuh keegoisan, cinta yang mengorbankan pihak lain. Cinta yang tidak fair, dan apakah ada cinta yang rela berbagi dan adil? Selalu ada yang menjadi tumbal dalam cinta. Cinta tidak pernah bisa dibahasakan dengan rumusan baku. Cinta ya hanya cinta saja, bisa berwujud apapun entah itu kebahagian atau kesengsaraan. Cinta melampaui panca indera. Dalam semesta jiwa nada-nada cinta selalu menggema menggelora untuk mencari eksistensinya.

Kesakitan cinta karena kita takut orang lain akan merebutnya tepat di depan kita. Cinta bukan potongan-potongan puzzle, cinta adalah bentuk untuh yang harus diberikan. Cinta bagai udara. Tak terbatas, dan tak bisa dipotong-potong.
Aku tersadar bahwa itu masih bergelut dengan teori-teoriku semata, yang selalu berkecamuk dan membuat aku tergetar dibuatnya.

“Apa yang harus kulakukan?”, tiba tiba pertanyaan ilalang membuyarkan lamunanku. “putus jawabku singkat”. Aku tahu ilalang shock mendengar jawaban yang kukeluarkan, tapi menurutku itulah yang terbaik.aku menyambung dengan argumenku” Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, kamu berhak bahagia, Mungkin itu jalan yang terbaik saat ini.” kilahku lagi. Biarkan tenang dan kalian berkonsentrasi menjadi bentuk kalian sendiri sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Mungkin perlu bermetaforsis dulu menjadi bentuk lain. Kelak kalau memang bentuk-bentuk itu berubah dan kalian bisa bersatu lagi akan menjadi semakin kokoh.

Ilalang tidak bisa menerima jawabanku. Cinta mengalahkan rasionya, cinta mengguncang dan mencincang hatinya. Ah akupun pernah mengalami itu batinku. “Kamu tidak mengerti” bantahnya. “Aku sangat mencintai dia, dan kupikir dialah yang terbaik.” Sambungnya lagi. Aku tetap terdiam, aku tahu itu sulit, karena sampai detik inipun aku belum bisa menerima kenyataan sepenuhnya. Bagaimanapun kita harus berdamai dengan hati kita, membebaskan diri dari dari tekanan-tekanan pertanyaan dan realitas yang tampak tak adil. Ya inilah kehidupan dengan segenap keanehan yang memang tampak tak memihak kita. Pembebasan diri dengan mangatakan “ ya, inilah kehidupan saya.” saya akan terima apapun yang terjadi, bagaimanapun kehidupan akan terus berjalan dan harus berjalan. Dan kita akan hadir dan hidup untuk Si maha cinta itu sendiri. Cinta yang lebih hakiki dan dialah yang akan menyelamatkan dan memberi warna-warna baru yang menghiasi hidup ini.

Ya cinta behembuslah dan bawalah aku dalam hidupMu, dan cinta tetap akan menjadi misteri yang indah dan luar biasa. Ilalang segera beranjak dari belaianku, dan mengatakan “ aku tetap menjalani cinta ini, dengan segala konsekwensinya.” Dia segera pergi meninggalkan kamarku dengan meninggalkan lelehan air matanya di kaos kumalku. Dalam hati aku mengatakan, “maafkan aku ilalang, aku tidak bisa membantumu.”

Santy, 11 September 2005

Mulut oh….mulut

Juli 17, 2008

cerita ini hadir bagi orang-orang yang sering terbelit masalah karena mulut mereka.

Tidak ada yang bisa dilakukan hari ini. Hanya ada kemarahan yang muncul memenuhi otakku. Tiba-tiba saja virus kebencian dan kekesalan merayap memenuhi sekujur tubuhku, yang ada hanya keletihan. Kucoba mencari apa yang membuatku seperti ini, sepertinya semua berawal dari mulut dan mataku yang keparat. Aku tidak pernah bisa diam melihat ketidakjelasan dan keanehan disekitarku. Selalu saja mata mengirim sinyal adanya obyek untuk dibantai mulutku. Seringkali aku berusaha untuk mundur dan membatasi dari kenyataan yang ada, namun sia-sia. semua membuat semangatku redup karena melihat fakta tanpa bisa berupaya apa-apa. Aku selalu berusaha mencari semangat yang menguap entah kemana. kucoba tutup mata, dan menahan semua mantra makian dalam mulut ini. Namun lagi-lagi semua sia-sia, semua tetap redup dan hilang dalam setiap hembusan nafas.
Hari ini aku ke Bank mengirim uang untuk saudara di kampung, maklum sudah hampir mendekati lebaran. Entah kenapa Bank hari ini terasa sesak, penuh orang dan sangat semrawut. Tiba-tiba saja mata keparatku melotot pada si satpam penjaga nomor di Bank itu. Dia bertugas untuk memberikan nomor dan memanggil urutan nomor, tak ubah seperti penjual jamu di trotoar jalan. “tigapuluh,tigasatu,tigadua” kemudian no. akan ditarik kembali padannya dan orang tersebut memasuki loket yang tak kalah ribet dan semrawutnya. Dalam kesemrawutan yang sangat memuakkan itu, si Satpam memasukkan orang-orang yang dikenal lebih dahulu dalam loket secara diam-diam. Dalam hitungan detik sinyal mata memerintahkan pada otakku untuk segera menyusun kata-kata. Beberapa saat kemudian memang mulutku menggempur dengan amunisi kata-kata yang tersimpan dalam Bank otak. “ Yang bener dong pak kerjanya! mana bisa seperti ini? No, berapa si Bapak itu kok tiba-tiba masuk? terus si Abang itu no. berapa? Ah payah deh Bapak.” Segera saja kata-kata itu diikuti segala macam protes dan sumpah serapah yang mengalir begitu saja.
Dahsyat benar mata dan mulutku bekerja sama, gila deh baru sekelebat saja kesalahan orang udah ketahuan, dan tembakan kata-kata pedas dari mulutkupun tak ada hentinya. Aku sampai tidak tahu bagaimana harus mengendalikan mereka. seperti 2 serdadu yang selalu siap siaga mengintai siapa saja dan dimana saja. Namun selalu saja aku mendapat masalah karena ulah mata dan mulutku. Kekesalan dan kemarahan seperti endapan yang selalu ada dalam otakku. Setiap kali terbangun dari tidurku yang kutemui hanya segumpal kemarahan yang tertinggal dalam kesadaran.
Saat ini untuk menyelesaikan keribetan yang ada hanya dengan tidur. Aku ingin sejenak beristirahat, sekedar menutup mata dari fakta yang selalu menjadi hantu bagiku. Namun belum sempat mata ini terpejam tiba-tiba saja mulut ini meloncat dari wajahku…Ups berlari menuju kerumunan orang-orang. aku berusaha mengejar. Si mulut berlari zig-zag dengan lincahnya.wuzz tiba-tiba dia sudah berada di tengah kerumunan orang banyak.
Semua orang terkejut, mata mereka terbelalak takjub melihat mulut tanpa tubuh yang terbang dan berbicara dengan suara lantang. Si Mulut berkoar-koar tanpa basa-basi mengungkap semua kebodohan yang ada disekelilingku. Akupun terpana dan terheran-heran Si mulut mampu bekerja sendirian, ingin rasanya menangkap dan menutupnya dengan gombal atau lakban. namun semua diluar kendaliku. Ocehannya semakin tajam, semakin banyak orang berkumpul dan duduk terkesima mendengar celotehan si mulut. Sesekali si mulut tertawa terbahak-bahak sambil memaki dengan sinis orang-orang yang duduk mengitarinya.
“Saudara-saudaraku sekalian, kalian harus tau bahwa Warsito seorang bos lembaga kemanusiaan di daerah kita telah mengeruk uang dari dana kemanusian yang masuk ke lembaganya. Dia gunakan seluruh dana itu untuk kampanye pencalonan dirinya menjadi Bupati.” si Mulut nyerocos memulai orasinya ” Dia bagikan semua bantuan yang ada dengan mengusung dirinya sebagai dewa penolong. Manusia biadap yang bertopeng pada nilai keluhuran. Jangan biarkan si Keparat itu jadi Bupati kalian.” semua orang tersentak tidak percaya, dari kekaguman berubah menjadi kemarahan yang luar biasa.
Seorang dari mereka bertanya dengan sorot mata yang tidak senang, “ hai mulut busuk dari mana kebohongan itu kau dapat?” ” ini bukan kebohongan, ini fakta. fakta seperti siluman muncul dan tenggelam dan tak berbekas. aku tidak punya bukti, karena bukti-bukti selalu dihancurkan oleh orang-orang biadab seperti Dia. Namun aku saksi dari semuanya, aku melihat semua kebohongan yang dia perbuat.” semua yang dikatakan itu memang benar, namun semua kembali tenggelam dalam pernyataan kebenaran di batinku. Kebenaran ini membuat semua orang panik antara percaya dan penyangkalan dalam diri masing-masing. namun beberapa orang mulai histeris dan berteriak-teriak ” jangan dengarkan ocehan mulut setan itu, dia berkata tanpa ada bukti di depan kita. Ya, sahut yang lain.”
Aku tahu orang-orang yang berteriak itu adalah pendukung sang calon bupati. Tiba-tiba saja terjadi serangan dengan lemparan batu-batu dan buah busuk. Mulutku hanya tertawa dan berkelit dengan gesitnya. “untung tak ada, satupun yang mencederai mulutku. Bagaimanapun si mulut masih punyaku. ” minggat kau mulut setan!” mereka mulai beringsut berdiri untuk mengejar dan menangkap mulutku. ” Jangan dengarkan mulut itu!” kembali terdengar teriakan kemarahan penuh dengan histeria.
Aku hanya berani menatap kejadian dari jauh, sesekali aku mendekat kerumunan dalam cadar yang melekat di mukaku. Aku takut orang akan tahu, kalau itu mulutku. Sehari ini aku benar-benar merasa lelah, tak terasa hari sudah gelap. Langit merah menghiasi cakrawala, indah sekali. Jauh lebih indah dari biasanya. Namun sayang kenikmatan ini kurasakan tanpa mulut di wajahku, mulut yang entah kini kemana. Berkoar tak jelas dan mungkin sangat membahayakan jiwaku.
Aku terbaring di bale-bale bambu dengan seluruh kelelahan hari ini, dengan segala takjub dan kebingungan yang masih menyelimuti pikiranku. Cahaya merah mulai meredup merahnya padam menjadi gelap pekat. Tiba-tiba ada sesuatu yang berkelebat, Aku kaget setengah mati ternyata mulutku. Gerakannya begitu pelan, tenang dan sangat indah seperti tarian mendekati mulutku dan akhirnya kembali pada tempat semula. Aku pegang mulutku…ya masih sama, tidak berubah. Masih dengan Bibir yang hitam dan pecah-pecah yang kupunya sebelumnya. Ya benar-benar punyaku! aku coba gerakan mulutku, ya benar masih berfungsi sama, benar-benar sama dengan sebelumnya. seluruh ketakjuban dan kebingungan mendekam lama dalam otakku. terus saja kubelai mulutku, kubelai lama. “Ah kau sudah kembali lagi, jangan pergi lagi ya! Jangan ngomong sembarangan sama orang-orang itu!” nasehatku pada mulutku. “Bukankah kau hanya bagian dari tubuhku? seharunya akulah pengendalimu, dari mana kekuatan yang kau dapat? kamu kecewa padaku? maaf aku sering mengontrol dirimu. Kalau kamu sering seperti ini akan sangat membahayakan jiwaku.” nasehatku sekali lagi pada mulutku.
Ah damai sekali malam ini, Aku bisa tidur lagi dengan anggota tubuh yang lengkap. Aku tidur lelap seperti terbaring dalam dekapan ibuku, dalam usapan hangatnya di kepalaku. Pagi menjelang, aku reganggakan otot-ototku seperti biasanya, tapi ouw waktu aku mau menguap seperti ada sesuatu yang kurang. ternyata “ anjrit!” umpatku, mulutku minggat lagi.
aku mendengar suara ribut-ribut di pasar sebelah rumah. Orang riuh berteriak-teriak “Hai mulut, berita bohong apalagi yang akan kau bawa?” aduh ternyata mulutku berulah lagi, aku segera mengenakan cadar dan bergegas berlari ke pasar. Si mulut sekarang banyak berkoar dengan mengusung nilai-nilai kehidupan. “Tahu apa mulutku tentang nilai kehidupan?” batinku. Terus saja ocehannya tiada henti, dengan suara parau dan dengan nada sedih dia berbicara “Saudara-saudara sebentar lagi akan ada seorang buruh yang terbunuh karena mengatakan kebenaran. Dia bongkar kebejatan korupsi Sang Bos, dia akan dianiaya oleh para bajingan tengik kaki tangan sang bos bangsat. Tubuhnya akan dirajah dan dihancurkan oleh orang-orang yang bodoh dan tolol. Dia dianggap buruh yang buruk, melanggar etika karena berani membocorkan rahasia majikannya. Tak ada seorangpun yang akan menolong, dia akan mati bukan sebagai pahlawan Dia akan mati sebagai pecundang yang konyol.
Tiba-tiba saja si mulut menghentikan seluruh celotehnya, kemudian secara tak terduga dia hadir menghampiriku menempel lagi dalam wajahku. semua mata melihat dengan tatapan tak percaya. salah satu dari mereka tiba-tiba saja bicara “Oh ternyata orang ini yang punya mulut busuk, mari kita habisi saja! Dia hanya seorang pembual yang tak berguna.” segera saja puluhan orang meringsek menjadi satu mengerubungiku, aku tidak bisa berpikir apapun semua bisa terjadi hanya ada kepasrahan sebagai orang kalah. “Aku bakal mati, pekikku dalam hati!” Mereka dengan sejanta ditangan dan penuh kemarahan mengeroyokku. Mereka memukul, menendang, melempariku dengan batu, menginjakku, memakiku. semua masih bisa aku rasakan, aku tidak merasa sakit sedikitpun, mungkin tubuhku sudah mati rasa. aku masih lihat mereka meludahiku, mengencingiku dan mengguyurku. Aku melihat itu semua, aku merasa seperti mimpi aku melihat semuanya. Oh ternyata jiwaku sudah pergi dari ragaku, aku masih saja melihat kekejaman itu. Tubuhku mulai dicincang, seperti kata mulutku. Mereka belum puas melihat aku terkapar dengan bersimbah darah, mereka terus tertawa dan melampiaskan kemarahan yang sebenarnya mereka sendiri tak mengerti.
Ya…aku mati. Kematian yang selalu aku tunggu sudah datang padaku. aku tidak pernah segembira sekarang. Aku tidak akan menangis dan sedih lagi karena orang-orang yang tidak beradap. Aku tidak akan bertemu orang-orang yang selalu mengatasnamakan kemiskinan untuk memperbesar perutnya sendiri. aku tidak akan miris lagi melihat pembunuhan atas nama suku dan agama. Maaf tidak ada lagi kesedihan, yang ada hanya kegembiraan dan kebahagian. Aku tidak lagi berada dalam ruang yang penuh dengan tangis, sedih dan kebodohan. Terimakasih mulut, kamu hebat. kau antar diriku dalam kematian yang membahagiakan.
Salam untuk mulut. Tetap menjadi mulut dan jangan takut untuk terus berperan menjadi mulut, yang berani bersuara untuk kebenaran.
Banda Aceh, 6 Oktober 2006

Monologku Tentang Tuhan

Penjilatkah aku? Ketika aku datang pada Tuhan hanya saat aku merasa butuh dan terdesak? Terhimpit semua kepedihan hidup, dan kemudian aku mengingatNya dan mulai berkomunikasi denganNya.
Kemudian aku mulai berpikir dan bertanya, lalu bagaimana pengikut yang baik menurut Dia. Apakah para pemuka agama yang seringkali memakai namaNya untuk tujuan komersil, atapun kepentingan politik? Atau para pengikut yang kemudian menjadi gila dan melakukan tindakan irasional yang semuanya juga mengatasnamakan Tuhan? Membunuh, menganiaya, mengancam, memaksakan kehendak dan melakukan hal-hal irasional lain untuk persembahan Tuhannya?

Kalau aku boleh bertanya lagi..siapa yang akan dianggap pengikut dan akan dipilihnya? Apakah orang-orang kaya yang mengeruk kekayaan dengan cara korupsi, merampas dan kemudian bisa “dicuci” dengan membagikan pada orang miskin dan melakukan kegiatan-kegiatan “ritual” (bangun tempat ibadah, pergi ke tempat-tempat suci, melafalkan doa sampai mulutnya berbusa).
Atau mungkin orang miskin yang kemudian menghalalkan apapun dengan mengatasnamakan tuntutan perut. Mungkin juga Dia senang dengan orang yang melakukan ritual yang tidak terhitung lagi, sampai-sampai orang-orang tersebut mengabdikan diri sepanjang hidupnya untuk ritual?

Atau mungkin lagi orang-orang pandai yang kemudian bisa menemukan teori-teori baru mengenai keberadaanNya dan yang diinginkanNya, yang seringkali juga menggunakan teori barunya untuk memperdayai orang lain karena mereka pandai berdalih, dan tentunya menganggap pemikirannya adalah termutakhir dan benar. Bisa jadi malah orang yang sama sekali tidak peduli padaNya dan tidak mau tahu keberadaanNya yang jadi pengikut yang paling disayangi, tentunya karena mereka tidak cerewet, dan tidak menuntut ini itu padaNya.

Lalu yang mana Tuhan? Maaf Tuhan……..dengan kebebasan yang Kau berikan kami menjadi beragam dan cenderung menjadi makhluk yang aneh. Maaf ya Tuhan kalau aku juga membuatMu pusing, menjadi varietas baru bagi keberanekaragaman pengikutMu.

MBO, 17 Maret 2006

Chatting with God

Juli 7, 2008

Tuhan : Kamu memanggilku?
Aku : Memanggilmu? Tidak… Ini siapa ya?

Tuhan : Ini Tuhan. Aku mendengar doamu. Jadi Aku ingin berbincang-bincang denganmu.
Aku : Ya, saya memang sering berdoa, hanya agar saya merasa lebih baik. Tetapi sekarang saya sedang sibuk, sangat sibuk

Tuhan : Sedang sibuk apa? Semut juga sibuk.
Aku : Nggak tau ya. Yang pasti saya tidak punya waktu luang sedikitpun. Hidup jadi seperti diburu-buru. Setiap waktu telah menjadi waktu sibuk.

Tuhan : Benar sekali. Aktivitas memberimu kesibukan. Tapi Produktivitas memberimu hasil. Aktivitas memakan waktu, Produktivitas membebaskan waktu.
Aku : Saya mengerti itu. Tapi saya tetap tidak dapat menghindarinya. Sebenarnya, saya tidak mengharapkan Tuhan mengajakku berchating seperti ini.

Tuhan : Aku ingin memecahkan masalahmu dengan waktu, dengan memberimu beberapa petunjuk. Di era internet ini, Aku ingin menggunakan medium yang lebih nyaman untukmu daripada mimpi, misalnya.
Aku : Oke, sekarang beritahu saya, mengapa hidup jadi lebih rumit?

Tuhan : Berhentilah menganalisa hidup. Jalani saja. Analisa-lah yang membuatnya jadi rumit
Aku : Kalau begitu mengapa kami manusia tidak pernah merasa senang?

Tuhan : Hari ini adalah hari esok yang kamu khawatirkan kemarin. Kamu merasa khawatir karena kamu menganalisa. Merasa khawatir menjadi kebiasaanmu. Karena itulah kamu tidak pernah merasa senang.
Aku : Tapi bagaimana mungkin kita tidak khawatir jika begitu banyak ketidakpastian?

Tuhan : Ketidakpastian itu tidak bisa dihindari. Tapi kekhawatiran adalah sebuah pilihan.
Aku : Tapi, begitu banyak rasa sakit karena ketidakpastian.

Tuhan : Rasa sakit tidak bisa dihindari, tetapi Penderitaan adalah sebuah pilihan.
Aku : Jika Penderitaan itu pilihan, mengapa orang baik selalu menderita?

Tuhan : Intan tidak dapat diasah tanpa gesekan. Emas tidak dapat dimurnikan tanpa api. Orang baik melewati rintangan, tanpa menderita. Dengan pengalaman itu, hidup mereka menjadi lebih baik bukan sebaliknya.
Aku : Maksudnya pengalaman pahit itu berguna?

Tuhan : Ya. Dari segala sisi, pengalaman adalah guru yang keras. Guru pengalaman memberi ujian dulu, baru pemahamannya.
Aku : Tetapi mengapa kami harus melalui semua ujian itu? Mengapa kami tidak dapat hidup bebas dari masalah?

Tuhan : Masalah adalah rintangan yang ditujukan untuk meningkatkan kekuatan mental. Kekuatan dari dalam diri bisa keluar dari perjuangan, bukan dari berleha-leha
Aku : Sejujurnya ditengah segala persoalan ini, kami tidak tahu kemana harus melangkah…

Tuhan : Jika kamu melihat keluar, maka kamu tidak tahu kemana dapat melangkah. Lihatlah ke dalam. Melihat keluar, kamu bermimpi. Melihat ke dalam, kamu terjaga. Mata memberimu penglihatan. Hati memberimu arah.
Aku : Kadang-kadang ketidakberhasilan membuatku menderita. Apa yang dapat saya lakukan?

Tuhan : Keberhasilan adalah ukuran yang dibuat oleh orang lain. Kepuasan adalah ukuran yang dibuat olehmu sendiri. Mengetahui tujuan perjalanan akan terasa lebih memuaskan daripada mengetahui bahwa kau sedang berjalan. Berjalanlah dengan kompas, biarkan orang lain bekejaran dengan waktu.
Aku : Di dalam saat-saat sulit, bagaimana saya bisa tetap termotivasi?

Tuhan : Selalulah melihat sudah berapa jauh saya berjalan, daripada masih berapa jauh saya harus berjalan. Selalu hitung yang harus kamu syukuri, jangan hitung apa yang tidak kamu peroleh.
Aku : Apa yang menarik dari manusia?

Tuhan : Jika menderita, mereka bertanya “Mengapa harus aku?”. Jika mereka bahagia, tidak ada yang pernah bertanya “Mengapa harus aku?”
Aku : Kadangkala saya bertanya, siapa saya, mengapa saya disini?

Tuhan : Jangan mencari siapa kamu, tetapi tentukanlah ingin menjadi apa kamu. Berhentilah mencari mengapa saya disini. Ciptakan tujuan itu. Hidup bukanlah proses pencarian, tapi sebuah proses penciptaan.
Aku : Bagaimana saya bisa mendapat yang terbaik dalam hidup ini?

Tuhan : Hadapilah masa lalu mu tanpa penyesalan. Peganglah saat ini dengan keyakinan. Siapkanlah masa depan tanpa rasa takut.
Aku : Pertanyaan terakhir. Seringkali saya merasa doa-doaku tidak terjawab.

Tuhan : Tidak ada doa yang tidak dijawab. Seringkali jawabannya adalah TIDAK.
Aku : Terima kasih Tuhan atas chatting yang indah ini.

Tuhan : Oke. Teguhkanlah dalam iman, dan buanglah rasa takut. Hidup adalah misteri untuk dipecahkan, bukan masalah untuk diselesaikan. Percayalah padaKu. Hidup itu indah jika kamu tahu cara untuk hidup.

Tugas oh tugas

Juni 25, 2008

Lama sekali tidak aku buka blog ini….hampir sekitar 2 tahun. bahkan passwordpun harus dicari lagi. hampir-hampir aku lupa juga kalau punya blog. namun mungkin aku sudah berjodoh dengan blog ini. kami dipertemukan lagi karena tugas akhir mata kuliah aplikasi komputer.

Sebuah pertemuan karena ada keterpaksaan dulu hehhehe. Tapi ternyata aku menemukan keasyikan lagi. aku bisa membaca beberapa tulisan yang lalu, yang kadang terasa hambar dan aneh…tapi kadang terasa menyenangkan dan membangkitkan semangat lagi buat nulis.

Buat pak Frasto, makasih banyak. sudah mempertemukan lagi saya dengan blog ini. Mudah-mudahan jadi rajin nulis lagi. P:

ibu

Oktober 11, 2006

All About photos

Oktober 8, 2006

Semua foto diblog ini adalah hasil jepretan Henri Ismail……….Orang hebat yang saya kenal, penuh ambisi untuk menghasilkan sebuah karya. SALUTE

foto-foto yang ada, banyak diambil di Aceh saat dia bertugas disana.

My first Blog

Oktober 7, 2006

ehm ini cerita kenapa aku mulai punya blog. aku sering iseng nulis tapi cuman numpuk di komputer, kadang kalau lagi online maksa temen-temen buat ngebacanya. kupikir punya blog akan ribet harus bolak-balik warnet maklum aku termasuk orang yang males banget ke warnet. di warnet sering bikin mangkel karena biasanya aksesnya luambat banget……udah lambat, ac kecil, bau rokok lagi Ugh! apalagi kalau ada yang tidak mandi pstttt

sebenarnya kesenanganku bukan nulis tapi “nyangkem” (jawa suka ngomong nggak ada juntrungnya) kata orang-orang itu nggak baik dan cenderung berdosa. (senengnya cuman ngomong kok dilarang, Waduh!) daripada pikiran dipendam (bikin jerawat). Mana ngga ada lagi yang mau dengerin cerita akhirnya terpaksa ditulis. ya akhirnya bertumpuklah cerita-cerita yang ngga jelas itu. Saat “maksa” temanku baca tulisan yang barusan jadi, dia sarankan untuk di publish aja. Dia kasih beberapa alamat untuk buat blog, wah sekalinya masuk ternyata ribet banget. (hihi…paling-paling aku yang gaptek) udah bolak-balik kotak-katik,tampilannya ngga keluar. Trus minta saran lagi deh…akhirnya diberikan alamat di wordpress.com

seharian kotak-katik akhirnya bisa! ya akhirnya seorang yang jauh dari peradaban dan gaptek mempunyai blog sendiri. senang dan gembira hatiku. ada wadah untuk nuangin isi cangkem yang banyak ngomong ini. Buat Thomas makasih banyak.

Ada Secercah Harapan

Oktober 7, 2006