Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka, dan engkau lari menghampiriku dengan tangis yang terpendam. “kenapa?” tanyaku memecah kesunyian. “perang lagi dengan suto?” lanjutku. alang hanya menganggukkan kepala, dan terus saja menangis tanpa suara dengan tatapan yang menerawang. aku tak pernah tega melihatnya menangis seperti itu, rasanya sudah terlalu banyak beban yang dipanggulnya. Kubiarkan dia beberapa saat, kuberikan segelas air putih untuk membuatnya menjadi lebih tenang.

beberapa saat setelah alang merasa puas menangis dia mulai membuka percakapannya, “mungkin kamu benar Ra, dia tidak pernah cocok untukku.” Aku menghela nafas, dan mulai angkat bicara “Aku sudah selalu mengingatkamnmu, dia memang kepala batu, bahkan batu Borubudurpun kalah kuat.” timpalku. Pikiranku langsung melayang pada suto, lelaki dingin yang kukenal. selalu tenang dan tidak pernah bisa diduga. Aku mengenal dia meski tidak tahu banyak namun feelingku mengatakan dia memang lelaki yang kepala batu yang angkuh untuk mengakui kelemahannya. dia memang hebat dengan pengetahuan yang dia miliki namun semua tertutup oleh keangkuhannya. Suto selalu saja membuat alang menangis, aku tidak pernah tahu duduk permasalahan sebenarnya, namun aku tidak bisa membiarkan alang menjadi lebih menderita.

pikiranku lansung melompat, ya tiba-tiba saja aku ingat Sakti lelaki yang pernah menghabiskan waktu bersamaku selama 2 tahun. suto benar-benar mengingatkanku pada Sakti. lelaki hebat yang pernah kumiliki. sampai detik inipun aku masih saja memikirkannya. aku tak pernah bisa mengerti kenapa aku selalu bermasalah dengannya. selalu saja hubungan kami diwarnai dengan perang mulut yang seakan tak pernah ada habisnya. masing-masing merasa benar. aku juga heran masalah-masalah yang seharusnya tidak perlu kami pikirkan, melintas dan tiba-tiba saja menjadi bahan untuk arena baku hantam.

biasanya setelah itu, kami tidak pernah bicara, sampai ada salah satu yang mengalah dan menyelesaikan masalah dengan percintaan yang dasyat. Ya, percintaan yang menjadi tiket kami berdamai. Aku merasa dia tidak pernah menghargaiku sebagai teman dekatnya. dia selalu menuntutku untuk mendukung namun tak pernah tahu jelas apa masalahnya karena dia lebih percaya pada kawan-kawannya. dia selalu saja menghindar ketika kutulusuri apa yang menjadi beban pikirannya saat ini, dan selalu mengatakan bahwa untuk mengerti tidak harus dengan bahasa verbal. Tetapi aku selalu menyanggahnya, bagaimanapun komunikasi penting untuk saling mengenal.

Melihat hubungan ilalang dan suto seakan melihat cermin kehidupanku sendiri. Aku usap rambut ilalng dengan lembut, aku sadar dia membutuhkan perhatian dan tempat berbagi saat ini. “ sudahlah ilalang, kamu boleh menangis sepuasnya, namun jangan kau sakiti dirimu sendiri.” Saranku padanya. Aku tak tahu harus mengatakan apa, jauh di dalam lubuk hatikupun sebenarnya sangat bergemuruh. Banyangan-banyangan Sakti datang dan menghilang tak jelas iramanya. Hingga detik inipun aku tidak bisa melupakan dia. Hujanan pertanyaanpun memburu dalam pikiranku. Prosesku dengan dirinya pun belum selesai dan entah kapan akan selesai. Tak pernah kumengerti apakah makna cinta itu. Apakah mungkin seperti sukrasana yang rela mati demi sumantri, atau seperti bagaspati yang rela mati demi untuk kebahagian putrinya setyawati.

Nyanyian kepedihan jiwa bergelombang saat ini. Cinta yang tetap tak pernah kumengerti. Cinta yang penuh keegoisan, cinta yang mengorbankan pihak lain. Cinta yang tidak fair, dan apakah ada cinta yang rela berbagi dan adil? Selalu ada yang menjadi tumbal dalam cinta. Cinta tidak pernah bisa dibahasakan dengan rumusan baku. Cinta ya hanya cinta saja, bisa berwujud apapun entah itu kebahagian atau kesengsaraan. Cinta melampaui panca indera. Dalam semesta jiwa nada-nada cinta selalu menggema menggelora untuk mencari eksistensinya.

Kesakitan cinta karena kita takut orang lain akan merebutnya tepat di depan kita. Cinta bukan potongan-potongan puzzle, cinta adalah bentuk untuh yang harus diberikan. Cinta bagai udara. Tak terbatas, dan tak bisa dipotong-potong.
Aku tersadar bahwa itu masih bergelut dengan teori-teoriku semata, yang selalu berkecamuk dan membuat aku tergetar dibuatnya.

“Apa yang harus kulakukan?”, tiba tiba pertanyaan ilalang membuyarkan lamunanku. “putus jawabku singkat”. Aku tahu ilalang shock mendengar jawaban yang kukeluarkan, tapi menurutku itulah yang terbaik.aku menyambung dengan argumenku” Kamu berhak mendapatkan yang terbaik, kamu berhak bahagia, Mungkin itu jalan yang terbaik saat ini.” kilahku lagi. Biarkan tenang dan kalian berkonsentrasi menjadi bentuk kalian sendiri sesuai dengan apa yang kalian inginkan. Mungkin perlu bermetaforsis dulu menjadi bentuk lain. Kelak kalau memang bentuk-bentuk itu berubah dan kalian bisa bersatu lagi akan menjadi semakin kokoh.

Ilalang tidak bisa menerima jawabanku. Cinta mengalahkan rasionya, cinta mengguncang dan mencincang hatinya. Ah akupun pernah mengalami itu batinku. “Kamu tidak mengerti” bantahnya. “Aku sangat mencintai dia, dan kupikir dialah yang terbaik.” Sambungnya lagi. Aku tetap terdiam, aku tahu itu sulit, karena sampai detik inipun aku belum bisa menerima kenyataan sepenuhnya. Bagaimanapun kita harus berdamai dengan hati kita, membebaskan diri dari dari tekanan-tekanan pertanyaan dan realitas yang tampak tak adil. Ya inilah kehidupan dengan segenap keanehan yang memang tampak tak memihak kita. Pembebasan diri dengan mangatakan “ ya, inilah kehidupan saya.” saya akan terima apapun yang terjadi, bagaimanapun kehidupan akan terus berjalan dan harus berjalan. Dan kita akan hadir dan hidup untuk Si maha cinta itu sendiri. Cinta yang lebih hakiki dan dialah yang akan menyelamatkan dan memberi warna-warna baru yang menghiasi hidup ini.

Ya cinta behembuslah dan bawalah aku dalam hidupMu, dan cinta tetap akan menjadi misteri yang indah dan luar biasa. Ilalang segera beranjak dari belaianku, dan mengatakan “ aku tetap menjalani cinta ini, dengan segala konsekwensinya.” Dia segera pergi meninggalkan kamarku dengan meninggalkan lelehan air matanya di kaos kumalku. Dalam hati aku mengatakan, “maafkan aku ilalang, aku tidak bisa membantumu.”

Santy, 11 September 2005

Tinggalkan Balasan