Mulut oh….mulut
Juli 17, 2008
cerita ini hadir bagi orang-orang yang sering terbelit masalah karena mulut mereka.
Tidak ada yang bisa dilakukan hari ini. Hanya ada kemarahan yang muncul memenuhi otakku. Tiba-tiba saja virus kebencian dan kekesalan merayap memenuhi sekujur tubuhku, yang ada hanya keletihan. Kucoba mencari apa yang membuatku seperti ini, sepertinya semua berawal dari mulut dan mataku yang keparat. Aku tidak pernah bisa diam melihat ketidakjelasan dan keanehan disekitarku. Selalu saja mata mengirim sinyal adanya obyek untuk dibantai mulutku. Seringkali aku berusaha untuk mundur dan membatasi dari kenyataan yang ada, namun sia-sia. semua membuat semangatku redup karena melihat fakta tanpa bisa berupaya apa-apa. Aku selalu berusaha mencari semangat yang menguap entah kemana. kucoba tutup mata, dan menahan semua mantra makian dalam mulut ini. Namun lagi-lagi semua sia-sia, semua tetap redup dan hilang dalam setiap hembusan nafas.
Hari ini aku ke Bank mengirim uang untuk saudara di kampung, maklum sudah hampir mendekati lebaran. Entah kenapa Bank hari ini terasa sesak, penuh orang dan sangat semrawut. Tiba-tiba saja mata keparatku melotot pada si satpam penjaga nomor di Bank itu. Dia bertugas untuk memberikan nomor dan memanggil urutan nomor, tak ubah seperti penjual jamu di trotoar jalan. “tigapuluh,tigasatu,tigadua” kemudian no. akan ditarik kembali padannya dan orang tersebut memasuki loket yang tak kalah ribet dan semrawutnya. Dalam kesemrawutan yang sangat memuakkan itu, si Satpam memasukkan orang-orang yang dikenal lebih dahulu dalam loket secara diam-diam. Dalam hitungan detik sinyal mata memerintahkan pada otakku untuk segera menyusun kata-kata. Beberapa saat kemudian memang mulutku menggempur dengan amunisi kata-kata yang tersimpan dalam Bank otak. “ Yang bener dong pak kerjanya! mana bisa seperti ini? No, berapa si Bapak itu kok tiba-tiba masuk? terus si Abang itu no. berapa? Ah payah deh Bapak.” Segera saja kata-kata itu diikuti segala macam protes dan sumpah serapah yang mengalir begitu saja.
Dahsyat benar mata dan mulutku bekerja sama, gila deh baru sekelebat saja kesalahan orang udah ketahuan, dan tembakan kata-kata pedas dari mulutkupun tak ada hentinya. Aku sampai tidak tahu bagaimana harus mengendalikan mereka. seperti 2 serdadu yang selalu siap siaga mengintai siapa saja dan dimana saja. Namun selalu saja aku mendapat masalah karena ulah mata dan mulutku. Kekesalan dan kemarahan seperti endapan yang selalu ada dalam otakku. Setiap kali terbangun dari tidurku yang kutemui hanya segumpal kemarahan yang tertinggal dalam kesadaran.
Saat ini untuk menyelesaikan keribetan yang ada hanya dengan tidur. Aku ingin sejenak beristirahat, sekedar menutup mata dari fakta yang selalu menjadi hantu bagiku. Namun belum sempat mata ini terpejam tiba-tiba saja mulut ini meloncat dari wajahku…Ups berlari menuju kerumunan orang-orang. aku berusaha mengejar. Si mulut berlari zig-zag dengan lincahnya.wuzz tiba-tiba dia sudah berada di tengah kerumunan orang banyak.
Semua orang terkejut, mata mereka terbelalak takjub melihat mulut tanpa tubuh yang terbang dan berbicara dengan suara lantang. Si Mulut berkoar-koar tanpa basa-basi mengungkap semua kebodohan yang ada disekelilingku. Akupun terpana dan terheran-heran Si mulut mampu bekerja sendirian, ingin rasanya menangkap dan menutupnya dengan gombal atau lakban. namun semua diluar kendaliku. Ocehannya semakin tajam, semakin banyak orang berkumpul dan duduk terkesima mendengar celotehan si mulut. Sesekali si mulut tertawa terbahak-bahak sambil memaki dengan sinis orang-orang yang duduk mengitarinya.
“Saudara-saudaraku sekalian, kalian harus tau bahwa Warsito seorang bos lembaga kemanusiaan di daerah kita telah mengeruk uang dari dana kemanusian yang masuk ke lembaganya. Dia gunakan seluruh dana itu untuk kampanye pencalonan dirinya menjadi Bupati.” si Mulut nyerocos memulai orasinya ” Dia bagikan semua bantuan yang ada dengan mengusung dirinya sebagai dewa penolong. Manusia biadap yang bertopeng pada nilai keluhuran. Jangan biarkan si Keparat itu jadi Bupati kalian.” semua orang tersentak tidak percaya, dari kekaguman berubah menjadi kemarahan yang luar biasa.
Seorang dari mereka bertanya dengan sorot mata yang tidak senang, “ hai mulut busuk dari mana kebohongan itu kau dapat?” ” ini bukan kebohongan, ini fakta. fakta seperti siluman muncul dan tenggelam dan tak berbekas. aku tidak punya bukti, karena bukti-bukti selalu dihancurkan oleh orang-orang biadab seperti Dia. Namun aku saksi dari semuanya, aku melihat semua kebohongan yang dia perbuat.” semua yang dikatakan itu memang benar, namun semua kembali tenggelam dalam pernyataan kebenaran di batinku. Kebenaran ini membuat semua orang panik antara percaya dan penyangkalan dalam diri masing-masing. namun beberapa orang mulai histeris dan berteriak-teriak ” jangan dengarkan ocehan mulut setan itu, dia berkata tanpa ada bukti di depan kita. Ya, sahut yang lain.”
Aku tahu orang-orang yang berteriak itu adalah pendukung sang calon bupati. Tiba-tiba saja terjadi serangan dengan lemparan batu-batu dan buah busuk. Mulutku hanya tertawa dan berkelit dengan gesitnya. “untung tak ada, satupun yang mencederai mulutku. Bagaimanapun si mulut masih punyaku. ” minggat kau mulut setan!” mereka mulai beringsut berdiri untuk mengejar dan menangkap mulutku. ” Jangan dengarkan mulut itu!” kembali terdengar teriakan kemarahan penuh dengan histeria.
Aku hanya berani menatap kejadian dari jauh, sesekali aku mendekat kerumunan dalam cadar yang melekat di mukaku. Aku takut orang akan tahu, kalau itu mulutku. Sehari ini aku benar-benar merasa lelah, tak terasa hari sudah gelap. Langit merah menghiasi cakrawala, indah sekali. Jauh lebih indah dari biasanya. Namun sayang kenikmatan ini kurasakan tanpa mulut di wajahku, mulut yang entah kini kemana. Berkoar tak jelas dan mungkin sangat membahayakan jiwaku.
Aku terbaring di bale-bale bambu dengan seluruh kelelahan hari ini, dengan segala takjub dan kebingungan yang masih menyelimuti pikiranku. Cahaya merah mulai meredup merahnya padam menjadi gelap pekat. Tiba-tiba ada sesuatu yang berkelebat, Aku kaget setengah mati ternyata mulutku. Gerakannya begitu pelan, tenang dan sangat indah seperti tarian mendekati mulutku dan akhirnya kembali pada tempat semula. Aku pegang mulutku…ya masih sama, tidak berubah. Masih dengan Bibir yang hitam dan pecah-pecah yang kupunya sebelumnya. Ya benar-benar punyaku! aku coba gerakan mulutku, ya benar masih berfungsi sama, benar-benar sama dengan sebelumnya. seluruh ketakjuban dan kebingungan mendekam lama dalam otakku. terus saja kubelai mulutku, kubelai lama. “Ah kau sudah kembali lagi, jangan pergi lagi ya! Jangan ngomong sembarangan sama orang-orang itu!” nasehatku pada mulutku. “Bukankah kau hanya bagian dari tubuhku? seharunya akulah pengendalimu, dari mana kekuatan yang kau dapat? kamu kecewa padaku? maaf aku sering mengontrol dirimu. Kalau kamu sering seperti ini akan sangat membahayakan jiwaku.” nasehatku sekali lagi pada mulutku.
Ah damai sekali malam ini, Aku bisa tidur lagi dengan anggota tubuh yang lengkap. Aku tidur lelap seperti terbaring dalam dekapan ibuku, dalam usapan hangatnya di kepalaku. Pagi menjelang, aku reganggakan otot-ototku seperti biasanya, tapi ouw waktu aku mau menguap seperti ada sesuatu yang kurang. ternyata “ anjrit!” umpatku, mulutku minggat lagi.
aku mendengar suara ribut-ribut di pasar sebelah rumah. Orang riuh berteriak-teriak “Hai mulut, berita bohong apalagi yang akan kau bawa?” aduh ternyata mulutku berulah lagi, aku segera mengenakan cadar dan bergegas berlari ke pasar. Si mulut sekarang banyak berkoar dengan mengusung nilai-nilai kehidupan. “Tahu apa mulutku tentang nilai kehidupan?” batinku. Terus saja ocehannya tiada henti, dengan suara parau dan dengan nada sedih dia berbicara “Saudara-saudara sebentar lagi akan ada seorang buruh yang terbunuh karena mengatakan kebenaran. Dia bongkar kebejatan korupsi Sang Bos, dia akan dianiaya oleh para bajingan tengik kaki tangan sang bos bangsat. Tubuhnya akan dirajah dan dihancurkan oleh orang-orang yang bodoh dan tolol. Dia dianggap buruh yang buruk, melanggar etika karena berani membocorkan rahasia majikannya. Tak ada seorangpun yang akan menolong, dia akan mati bukan sebagai pahlawan Dia akan mati sebagai pecundang yang konyol.
Tiba-tiba saja si mulut menghentikan seluruh celotehnya, kemudian secara tak terduga dia hadir menghampiriku menempel lagi dalam wajahku. semua mata melihat dengan tatapan tak percaya. salah satu dari mereka tiba-tiba saja bicara “Oh ternyata orang ini yang punya mulut busuk, mari kita habisi saja! Dia hanya seorang pembual yang tak berguna.” segera saja puluhan orang meringsek menjadi satu mengerubungiku, aku tidak bisa berpikir apapun semua bisa terjadi hanya ada kepasrahan sebagai orang kalah. “Aku bakal mati, pekikku dalam hati!” Mereka dengan sejanta ditangan dan penuh kemarahan mengeroyokku. Mereka memukul, menendang, melempariku dengan batu, menginjakku, memakiku. semua masih bisa aku rasakan, aku tidak merasa sakit sedikitpun, mungkin tubuhku sudah mati rasa. aku masih lihat mereka meludahiku, mengencingiku dan mengguyurku. Aku melihat itu semua, aku merasa seperti mimpi aku melihat semuanya. Oh ternyata jiwaku sudah pergi dari ragaku, aku masih saja melihat kekejaman itu. Tubuhku mulai dicincang, seperti kata mulutku. Mereka belum puas melihat aku terkapar dengan bersimbah darah, mereka terus tertawa dan melampiaskan kemarahan yang sebenarnya mereka sendiri tak mengerti.
Ya…aku mati. Kematian yang selalu aku tunggu sudah datang padaku. aku tidak pernah segembira sekarang. Aku tidak akan menangis dan sedih lagi karena orang-orang yang tidak beradap. Aku tidak akan bertemu orang-orang yang selalu mengatasnamakan kemiskinan untuk memperbesar perutnya sendiri. aku tidak akan miris lagi melihat pembunuhan atas nama suku dan agama. Maaf tidak ada lagi kesedihan, yang ada hanya kegembiraan dan kebahagian. Aku tidak lagi berada dalam ruang yang penuh dengan tangis, sedih dan kebodohan. Terimakasih mulut, kamu hebat. kau antar diriku dalam kematian yang membahagiakan.
Salam untuk mulut. Tetap menjadi mulut dan jangan takut untuk terus berperan menjadi mulut, yang berani bersuara untuk kebenaran.
Banda Aceh, 6 Oktober 2006