Aku berjalan dalam lorong yang gelap. Beberapa pasang mata melihatku, meski tak tampak langsung namun aku bisa merasakannya. Mata yang selalu celingak-celinguk dalam kegelapan. Tampak pula bayangan-banyangan berkelebat dalam desahan mesra. Bayangan dan desahan dari para pasangan yang entah untuk mencari kebahagian sesaat atau penantian untuk hidup bersama.
Pasangan-pasangan itu berjajar mencari titik-titik lorong yang dianggap nyaman. Gerakan yang seolah menjadi seragam, mereka duduk berdua-dua. Ada yang duduk diatas motor, ada yang duduk dibawah saling berhadapan, atau duduk sejajar. Mereka tampak begitu menikmati remang malam. Hawa penuh cinta memantul dari tubuh mereka, geloranya begitu terasa. Selalu saja dalam lorong yang sama mungkin inilah alasan kenapa orang memberikan nama lorong cinta. Entah cinta mereka terlarang, atau memang cinta yang dianggap sah. Akupun tak pernah mengerti makna cinta terlarang ataupun cinta yang sah, bagiku itu terlalu rumit. Yang aku tau cinta adalah cinta, perasaan yang tak pernah bisa ditutupi dengan apapun, begitu sederhananya cinta menurutku.
Aku tetap saja melangkahkan kaki, melnggang dalam kelam malam. Siul-siul nakal mulai terdengar saat aku lewat “mbak-mbak boleh kenalan.” Aku tetap berjalan melewati mulut usil mereka, tidak kugubris suara-suara tadi. Pikiranku masih saja terfokus pada cinta yang melayang-layang. Aku tetap melanjutkan langkahku, masih dengan geliat-geliat cinta yang menjelma dalam bayang-bayang dalam lorong gelap.
Aku mulai mendengar percakapan-percakapan dari pasangan-pasangan yang kulewati. Ada yang merayu, mungkin ribuan jurus dilontarkan untuk merebut hati pasangannya. Aku hanya tersenyum getir mendengar rayuan seorang laki-laki di pada kekasihnya. “Ehm kamu cantik, kamu yang terhebat yang pernah aku miliki dik.” “kamu jangan tinggalin aku ya.” Sang perempuan hanya tersenyum-senyum, mungkin perasaannya melayang karena tersanjung. Entahlah.
Bulan baru saja menampakkan sinarnya, kilaunya masih tampak malu-malu tersembul semburat kuning diantara dahan tinggi disekitar lorong gelap. Suara jangkring mengerik saling bersahutan, tampak 2 bayangan mengendap-endap di bawah pohon, mereka tertawa cekikikan seakan sedang merayakan sebuah kebahagiaan yang entah datang dari mana.
Mereka bercengkerama sambil saling berpegangan tangan. Kembali suara cekikikan dari sepasang insan itu. “istri abang ngga tahu kalau abang pergi denganku?” tiba-tiba suara sang perempuan mengehentikan suara cekikikan mereka. “tidak dik, aku pamit padanya ada rapat malam ini. Lagian pastinya dia sedang tenggelam dalam kesenangannya belanja di mall dengan teman-temannya. Makanya aku memilihmu karena kamu lebih perhatian denganku.” Sang laki-laki menjawab sambil menghela napas panjang, seolah ada beban yang sedang dirasakannya. “sudahlah dik ini malam milik kita, tak usalah kupikirkan istriku. Aku juga sudah tidak mencintainya lagi.” Lalu mereka saling berpelukkan seolah tak ada halangan apapun yang bisa memisahkan mereka.
“Ah, pasangan selingkuh.” Gumanku. Malam semakin larut, semakin banyak pula pasangan yang datang. Aku semakin jauh masuk dalam lorong itu, makin tampak remang karena banyak lampu penerangan jalan yang sengaja dipecahkan mungkin untuk mengamankan ritual percintaan mereka.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan teriakan seorang perempuan yang tampak menahan tangis. Pasangannya berumur setengah baya, kira-kira sekitar 45 tahun dan perempuan itu sendiri mungkin berumur 20 tahunan. Perut sang perempuan tampak membuncit karena hamil. Si Perempuan berbicara penuh dengan tekanan emosi. “ jadi bagaimana dengan hubungan ini sayang, kapan kau ceraikan istrimu? Kita jadi nikah kan? Aku sudah tidak sabar, perutku mulai membesar!” si laki-laki hanya diam menunduk. Semua yang kulihat membuatku menggelengkan kepala.
Lalu kembali senyap, bulan masih setia dengan cahaya remang. Hanya ada desahan diantara gelap malam dan sinar bulan yang tetap semburat kuning diantara dahan tinggi. Lalu terdengar lagi suara pasangan yang lain, si perempuan merajuk manja. “ kita cari tempat yang lain yuk, pacarku biasanya lewat sini nih! Gila bisa monyong kalau ketauan. “Uh susahnya selingkuh!” sudah deh kamu putus aja!” umpat si laki-laki, lalu si perempuan menyahut “Ngga ah, aku kasihan ninggalin dia, tapi aku juga cinta kamu kok! Udah deh ngga usah dibahas ya, cepetan aja pergi dari sini.” “tapi janji ya, kamu bakal cepet ninggalin dia, males banget pacaran selalu sembunyi-sembunyi gini.”si lelaki kembali menimpali. “ya gimana lagi, ini kan jadi lebih asyik dan menggairahkan, sudah jangan cerewet.” Si perempuan menarik laki-laki pasangannya sambil cekikikan.
Bulan dengan semburat kuningnya, merasuk dalam hati tiap orang yang sedang sedang menikmati percintaan dalam lorong yang gelap. “Ah aku jadi ingat laki-lakiku yang ada di rumah. Selalu saja dia ngomel dan membandingkanku dengan perempuan lain. Beberapa waktu yang lalu laki-lakiku membawa pada percakapan yang hingga saat ini tidak pernah aku pahami. Dia berterusterang menginginkan perselingkuhan.percakapan itu masih saja terngiang dalam pikiranku.
“ Sayang, Kamu sudah menjenuhkan! Gimana kalau kita berselingkuh untuk penyegaran?” “Apa? Sudah gila kamu? Tapi, sudahlah terserah kamu saja!”jawabku. Aku sudah terlalu lelah dengan hubungan aneh ini. “Kamu terlalu menuntut banyak padaku, apa sih yang kamu mau sebenarnya?lanjutku.” “Kita hanya selingkuh saja, karena butuh variasi. Aku masih cinta kamu kok.” “ Apa? Masih berani kamu bicara cinta? Cinta yang seperti apa?” timpalku. “Peduli amat dengan cinta. Tapi sudahlah terserah apa maumu deh, aku capek!”aku mencoba menjawab sekenanya. “ kita eksplorasi saja perasaan ini, pasti kamu akan merasakan sensasi yang luar biasa, aku jamin. Sekarang ngga usah banyak debat lagi, kamu mau atau tidak?” laki-lakiku kembali menyahut. “Edan kamu, tapi terserah ajalah, aku tidak mau menjalani kegoblokan macam ini.” Sahutku.
Itu percakapan terakhir dengan laki-lakiku, karena sudah seminggu ini dia tidak pulang kerumah. Aku juga tidak berusaha mencarinya, rasanya semua sudah sia-sia. Lamunan itu mengantarku sampai kerumah kontrakkan. Cinta memang aneh, 1 jam saja aku berjalan, sudah menemukan bermacam-macam adegan yang membuatku menjadi sakit kepala.
Aku coba baringkan badanku, dan mengingat kembali percakapan dengan laki-lakiku. Aku tak menemukan kesalahan apapun dalam dalam percakapan itu, aku merasa cinta itu memang sudah hambar. Cinta itu harusnya tidak rumit. Cinta tak perlu dipaksakan. Beberapa saat berselang, semburat cahaya bulan yang tadi bersinar remang-remang tiba-tiba meredup. Angin mulai kencang bertiup dan dengan seketika hujan turun dengan deras. ‘Musim yang tidak pernah bisa diduga saat ini,untung sudah sampai di rumah.”gumanku.
Petir menyambar-nyambar, Hujan mengguyur malam yang pekat, angin menderu tiada henti. Malam yang dingin menyusup kulit dan tulangku. Alam pikirku sedang berperang melawan alam rasaku. Semuanya sedang bertarung atas nama cinta. Sesuatu yang aku benci sekaligus aku rindui.
Masih saja hujan dan petir yang menyambar-nyambar. Seperti sambaran rasa yang sedang menggelayar dalam hatiku. Mencabik-cabik dalam luka yang belum terobati. Pikiran melawan sekuat tenaga melawan rasa untuk tidak jadi cengeng dan menyerah karena cinta. Rupa-rupa wajah yang kutemui dalam perjalan sepanjang lorong silih berganti hadir. Mengisi kekosongan ruang jiwa yang sedang bertarung.
Jiwa menjadi kosong dan lembek. Mengharu biru terbawa suasana dingin dan sepi. “Hu..hu..hu sendiri lagi!” Nyanyian kesunyian dan kesedihan menggelora, berisi keluhan dan umpatan. Aku ingat laki-lakiku yang aneh. Nyanyian melankolis terasa sumbang dan membawaku semakin menerawang jauh pada laki-lakiku. “Ogh…jiwaku yang selalu merasa sunyi. Kenapa bisa begini? Semua karena cinta yang gombal mukiyo! Ngapusi!” umpatku.
“ dasar jiwa yang rapuh!”gumanku. “Sudah tau cinta bakal membawa sengsara kok jatuh cinta terus! Bodoh!’ Beratnya sebuah kesetiaan dan hanya dibayar atas nama eksplorasi cinta. Cinta yang padam hanya karena rasa bosan dan butuh variasi lain. “Ogh…jiwa yang malang, yang tercabik-cabik karena rasa cinta. Terbanglah dan pergilah melihat dunia cinta yang sebenarnya.”
Buang saja bayangan-bayangan yang menyesatkan. Musnahkan semua kenangan tentang rupa-rupa wajah, Hancurkan dan musnahkan. Oh…hujan masih saja deras mengguyur dan halilintar masih menyalak-nyalak dengan garang.
Cakrawala tak lagi terlihat, semua tertutup awan gelap. Begitu juga jiwaku yang terhimpit rasa dan pikir mengadu semua kekuatan untuk memenangkan rasa cinta. Tendangan dan pukulan bertubi-tubi menghujani rasa. Semua dalam kata-kata pedas dan rasional. Rasa hanya bisa menerangkan dalam ketenangan mencoba menerangkan dengan bahasa rasa dan pikiran rasa yang tentunya tak pernah dimengerti oleh pikiran yang sebenarnya.
Malam masih pekat, dan tetap menjadi pekat. Mata ini tidak bisa terpejam karena pikiran masih saja mencoba memaknai cinta dengan rasa pikiran. Dan rasa masih juga mencoba merasai cinta dengan caranya sendiri. Dan cinta tetaplah menjadi cinta dan tidak bisa diuraikan dalam perpaduan alam pikir dan alam rasa dan biarkan cinta menjadi cinta itu sendiri. Tidak perlu dijawab, tidak perlu dimengerti. Karena yang kita alami itulah yang kita pikirkan dan kita rasakan. Tidak perlu lari menjauh dan tidak juga perlu mengejar untuk mendekat. Dan memang begitulah cinta.
Tapaktuan, 31 Oktober 2010
